Ada sesuatu yang berbeda setelah Semen Padang FC menyelesaikan pertandingan keempatnya di Pegadaian Championship 2026/2027. Kekalahan dari PSPS Pekanbaru memang membuat Kabau Sirah kehilangan tiga poin, tetapi yang kemudian tinggal lebih lama bukan hanya soal angka di klasemen. Ada pertanyaan yang mulai muncul tentang bagaimana Semen Padang sedang memainkan sepak bolanya.
Pertanyaan itu mungkin belum terdengar setelah dua kemenangan dan satu hasil imbang pada tiga pertandingan sebelumnya. Hasil-hasil tersebut membuat perjalanan awal Semen Padang FC terlihat cukup baik, terlebih mereka harus membawa pengurangan satu poin sejak kompetisi dimulai. Namun pertandingan demi pertandingan selalu membawa sesuatu untuk dipelajari, dan kali ini kekalahan seperti membuka ruang yang lebih luas untuk melihat kembali permainan mereka.
Melawan PSPS Pekanbaru, Semen Padang sebenarnya lebih banyak memegang bola. Penguasaan bola mencapai lima puluh enam persen, sementara PSPS berada di angka empat puluh empat persen. Tetapi bola yang lebih lama berada di kaki pemain Semen Padang, tidak banyak berubah menjadi ancaman, karena sepanjang pertandingan hanya ada tujuh tembakan dan satu di antaranya mengarah ke gawang.
Di sisi lain, PSPS tidak membutuhkan penguasaan bola yang lebih besar untuk menciptakan lebih banyak peluang. Lima belas tembakan dilepaskan dan empat mengarah ke gawang, sampai akhirnya satu peluang berubah menjadi gol pada menit ke-72. Dimas Wicaksono Putra Rahman menjadi pencetak gol yang membuat pertandingan itu berakhir dengan kekalahan pertama Semen Padang.
Angka-angka tersebut tentu tidak cukup untuk menceritakan seluruh pertandingan. Sepak bola terlalu luas untuk dibaca hanya melalui statistik, tetapi kadang sebuah angka bisa membuat kita berhenti sebentar dan melihat kembali sesuatu yang sebelumnya mungkin terlewat. Dalam pertandingan itu, Semen Padang memiliki bola lebih banyak, tetapi kesulitan membuat penguasaan tersebut menjadi sesuatu yang benar-benar mengancam.
Nilmaizar sendiri tidak memberikan banyak penjelasan setelah pertandingan. Ia hanya mengatakan bahwa PSPS bermain bagus, sementara evaluasi kembali menjadi sesuatu yang harus dilakukan setelah pertandingan. Ada pengakuan bahwa kedua tim menjalani pertandingan yang cukup berimbang, tetapi hasil akhirnya tetap menjadi milik PSPS.
M. Kemaluddin juga melihat ada bagian dari permainan Semen Padang yang sebenarnya sudah berjalan baik. Menurutnya, tim bermain selama 90 menit, tetapi harus membayar mahal sebuah kelengahan yang terjadi menjelang akhir pertandingan. Pernyataan itu membawa kita kembali kepada hal yang sudah beberapa kali muncul dalam perjalanan Semen Padang musim ini, sebuah pertandingan bisa berjalan cukup baik, tetapi hasil akhirnya tetap ditentukan oleh momen yang tidak berhasil dijaga.
Namun kali ini, pertanyaannya tidak berhenti pada momen ketika PSPS mencetak gol. Setelah pertandingan, suara dari para pendukung mulai membawa pembicaraan kepada sesuatu yang lebih jauh, yaitu pola permainan. Bukan lagi hanya tentang mengapa Semen Padang kalah, tetapi tentang seperti apa permainan yang sedang dibangun dan ke mana permainan itu hendak dibawa.
Beberapa pendukung mempertanyakan ketergantungan pada permainan dari sisi sayap dan crossing yang dilakukan berulang-ulang. Ada pula yang melihat penggunaan long ball terlalu sering muncul, sementara variasi serangan melalui kombinasi umpan pendek dan pergerakan antar pemain dianggap belum banyak terlihat. Jarak antar pemain juga menjadi bagian yang ikut diperbincangkan, karena permainan yang terlalu renggang bisa membuat sebuah tim kesulitan membangun hubungan ketika memasuki wilayah pertahanan lawan.
Suara-suara itu datang dari tempat yang berbeda dengan ruang kerja pelatih. Mereka tidak berada di dalam sesi latihan dan tidak mengetahui seluruh pertimbangan yang dibuat sebelum pertandingan. Karena itu, komentar tersebut tentu tidak bisa begitu saja dijadikan kesimpulan tentang permainan Semen Padang, tetapi tetap menjadi bagian dari cerita, karena menunjukkan bagaimana permainan itu mulai dirasakan dari luar lapangan.
Menariknya, pertanyaan tentang pola permainan muncul ketika Semen Padang sebenarnya masih berada dalam perjalanan yang belum terlalu jauh. Empat pertandingan baru dilewati, dengan dua kemenangan, satu hasil imbang, dan satu kekalahan. Enam poin tercatat di klasemen setelah pengurangan satu poin, dan musim masih menyisakan begitu banyak pertandingan untuk memberikan jawaban yang belum bisa ditemukan sekarang.
Di antara semua itu, Ikram Al Giffari kembali menjadi nama yang tidak bisa dilewatkan. Dalam beberapa pertandingan sebelumnya, penjaga gawang muda itu sudah beberapa kali menjadi penyelamat ketika lawan mendapatkan peluang. Ketika sebuah tim masih mencari bentuk permainannya, keberadaan seorang penjaga gawang yang mampu bertahan dalam situasi sulit tentu menjadi bagian dari perjalanan yang tidak kecil.
Tetapi sepak bola tidak hanya membutuhkan seseorang yang mampu menyelamatkan bola ketika serangan lawan datang. Ada pekerjaan lain yang harus berjalan lebih jauh ke depan, bagaimana bola dibawa keluar, bagaimana pemain saling mendekat, bagaimana ruang diciptakan, dan bagaimana penguasaan bola akhirnya berubah menjadi peluang. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak harus dijawab dalam satu malam, tetapi ia bisa mulai menjadi bahan untuk melihat pertandingan berikutnya.
Mungkin karena itu, kekalahan dari PSPS terasa membawa cerita yang sedikit berbeda. Satu kekalahan tidak serta merta menghapus dua kemenangan yang sudah didapatkan, begitu pula satu pertandingan tidak cukup untuk menentukan apakah pola permainan Semen Padang memang bermasalah. Tetapi sebuah pertandingan bisa menjadi cermin, dan kali ini cermin itu membuat beberapa bagian permainan terlihat lebih jelas.
Nilmaizar dan para pemain masih memiliki perjalanan yang panjang. Mereka masih memiliki waktu untuk memperbaiki apa yang dianggap kurang, mempertahankan apa yang sudah berjalan baik, dan mencari bentuk permainan yang paling sesuai dengan pemain yang ada. Sementara para pendukung akan terus melihat, menilai, dan mungkin kembali bertanya ketika pertandingan berikutnya datang.
Karena pada akhirnya, pertanyaan tentang pola permainan tidak selalu membutuhkan jawaban segera. Kadang ia cukup disimpan terlebih dahulu, dibawa dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya, lalu dilihat apakah permainan yang sama masih muncul atau perlahan mulai berubah.
Setelah empat pertandingan, Semen Padang mungkin belum memiliki semua jawabannya. Tetapi setidaknya, pertanyaan tentang pola permainan itu sudah mulai terdengar.
Ditulis oleh O. Hairudin Sikumbang
Kontributor BekisarMedia.id











