Ketika Rumah Jauh, Dunsanak Datang Mendekat

Ada sesuatu yang berubah ketika sebuah klub sepak bola harus meninggalkan rumahnya. Pertandingan kandang tetap disebut pertandingan kandang, tetapi suasananya tidak selalu bisa menghadirkan perasaan yang sama ketika pertandingan dimainkan di stadion yang sudah puluhan tahun menjadi bagian dari kehidupan klub. Bagi Semen Padang FC, keadaan itu menjadi bagian dari perjalanan musim 2026/2027 ketika Stadion H. Agus Salim harus direkonstruksi dan Kabau Sirah untuk sementara menjalani pertandingan kandang di Stadion Patriot Chandra Bhaga, Bekasi.

Namun, kehilangan rumah tidak selalu berarti kehilangan orang-orang yang ada di dalamnya. Ketika jarak memisahkan sebuah klub dengan daerah asalnya, ada cara lain untuk membuat rasa memiliki tetap hadir. Bagi Semen Padang FC, salah satu caranya adalah membuka kesempatan bagi perantau Minang dan para pendukung Kabau Sirah di sekitar Jakarta, Banten, dan Jawa Barat untuk datang langsung memberikan dukungan kepada tim.

Pertandingan melawan PSIS Semarang pada 20 September 2026, menjadi pertandingan kandang pertama Semen Padang FC di musim ini. Stadionnya berada jauh dari Ranah Minang, tetapi manajemen berusaha agar pertandingan tersebut tidak kehilangan sentuhan dengan orang-orang yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan klub. Tiket disediakan secara gratis bagi perantau Minang dan suporter Semen Padang FC yang ingin menyaksikan langsung pertandingan, dengan pendaftaran dilakukan melalui jaringan DPC, DPD, dan DPW Ikatan Keluarga Minang.

Di balik keputusan tersebut, ada sebuah kenyataan sederhana tentang kehidupan masyarakat Minang. Banyak orang Minang hidup jauh dari kampung halaman, tetapi jarak tidak selalu membuat hubungan dengan tanah asal menjadi jauh. Ada bahasa yang tetap digunakan, makanan yang tetap dicari, tradisi yang tetap dijaga, dan dalam konteks sepak bola, ada klub yang tetap diikuti meskipun pertandingan berlangsung ratusan kilometer dari tempat asalnya.

Andre Rosiade, Presiden Klub Semen Padang FC yang juga Ketua Umum DPP Ikatan Keluarga Minang, berada di antara dua ruang tersebut. Di satu sisi, ia membawa tanggung jawab sebagai bagian dari manajemen klub. Di sisi lain, posisinya di organisasi perantau Minang membuat upaya menghadirkan masyarakat Minang ke stadion, memiliki ruang yang lebih luas daripada sekadar urusan pertandingan.

Tetapi, mungkin inti dari cerita ini bukan pada siapa yang menyediakan tiket atau bagaimana tiket tersebut dibagikan. Yang lebih menarik adalah apa yang terjadi ketika sebuah klub yang sedang kehilangan rumah, mencoba membangun suasana rumah di tempat lain. Stadion Patriot Chandra Bhaga mungkin bukan Stadion H. Agus Salim, tetapi orang-orang yang datang mengenakan atribut Kabau Sirah, membawa semangat yang sama, dan memberikan dukungan dari tribun, dapat menciptakan bagian kecil dari suasana yang selama ini tumbuh di Padang.

Seminggu sebelumnya, Semen Padang sudah merasakan bagaimana rasanya bermain jauh dari Ranah Minang. Mereka datang ke Banda Aceh menghadapi Persiraja dan pulang dengan kemenangan 1-0 melalui gol Risman Ariyanto Maring. Kemenangan tersebut juga memiliki arti tersendiri bagi Andre Rosiade, karena mengakhiri penantian panjang Semen Padang FC untuk meraih kemenangan tandang atas Persiraja di Banda Aceh sejak pertemuan pertama kedua tim pada 1986.

Tetapi kemenangan di Banda Aceh dan pertandingan melawan PSIS, memiliki suasana yang berbeda. Di Banda Aceh, Semen Padang FC datang sebagai tim tamu. Di Bekasi, mereka akan berstatus sebagai tuan rumah, meskipun rumah itu berada jauh dari Padang. Perbedaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi klub yang sedang menjalani dua tahun sebagai tim musafir, setiap pertandingan kandang akan selalu memiliki cerita tersendiri.

Di sinilah kehadiran para perantau dan suporter menjadi lebih berarti. Mereka bukan sekadar penonton yang mengisi kursi stadion, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan antara klub dengan orang-orang yang berada jauh dari tanah kelahirannya. Ketika pemain memasuki lapangan dan melihat warna Kabau Sirah di tribun, jarak antara Bekasi dan Padang mungkin tidak benar-benar hilang, tetapi setidaknya terasa sedikit lebih dekat.

Sepak bola memang sering dibicarakan melalui hasil pertandingan. Berapa gol yang tercipta, berapa poin yang dikumpulkan, siapa yang menang dan siapa yang kalah. Tetapi perjalanan sebuah klub juga dibentuk oleh hal-hal yang tidak selalu masuk ke dalam statistik, termasuk bagaimana suporter tetap hadir ketika keadaan membuat mereka harus menempuh jarak lebih jauh.

Semen Padang FC sedang menjalani masa seperti itu. Rumahnya sedang dibangun kembali, kandangnya berpindah, dan perjalanan kompetisinya harus tetap berjalan. Dalam keadaan tersebut, kehadiran para perantau Minang di tribun Stadion Patriot Chandra Bhaga bukan hanya soal jumlah penonton, melainkan tentang bagaimana sebuah hubungan tetap dipelihara, ketika tempat yang biasanya mempertemukan mereka sedang tidak bisa digunakan.

Mungkin sebuah klub memang tidak pernah sepenuhnya tinggal di satu stadion. Rumah sebuah klub juga bisa berada di ingatan orang-orang yang mengikutinya, di cerita yang dibawa dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan di perasaan yang muncul ketika melihat lambang klub kesayangan berada di lapangan.

Stadion H. Agus Salim sedang menunggu untuk kembali menjadi rumah. Sementara itu, Kabau Sirah harus menjalani perjalanan di tempat lain. Tetapi selama masih ada orang-orang yang bersedia datang mendekat, memberi dukungan, dan membuat jarak terasa lebih pendek, mungkin sebuah klub tidak pernah benar-benar kehilangan rumahnya.

Kadang-kadang, rumah bukan tempat kita bermain. Rumah adalah orang-orang yang tetap datang ketika kita bermain jauh darinya.


Ditulis oleh O. Hairudin Sikumbang,
Wartawan dan Penikmat Sepak Bola Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *