Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan
Hj. Febrita Lustia sedang meninjau pengrajin songket di Desa Wisata Burai Ogan Ilir.
Hj. Febrita Lustia saat memberikan saran teknis cuban kepada pengrajin songket di Desa Burai, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir. (BEKISARMEDIA.ID/HAIRUDIN)

Ketua TP PKK Sumsel “Bedah” Kualitas UMKM Desa Burai: Ingatkan Kerapian Songket hingga Higienitas Kemplang

BEKISARMEDIA.ID — Ketua TP PKK Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel), Hj. Febrita Lustia, turun langsung ke lapangan, untuk memastikan produk unggulan Sumsel di Desa Burai, Kabupaten Ogan Ilir, tetap punya nilai jual tinggi di pasaran.

Kunjungan yang dilakukan pada hari Kamis, 23 April 2026 ini, bukan sekadar seremoni biasa, karena Hj. Febrita Lustia tertangkap kamera sangat teliti memelototi detail teknik pembuatan kain songket khas setempat.

Kehadirannya di desa yang berada di Kecamatan Tanjung Batu itu, didampingi langsung oleh Wakil Bupati Ogan Ilir, Ardani, serta Ketua TP PKK Ogan Ilir, Tikha Alamsjah Panca Wijaya.

Hj. Febrita Lustia sedang meninjau pengrajin songket di Desa Wisata Burai Ogan Ilir.
Hj. Febrita Lustia saat memberikan saran teknis cuban kepada pengrajin songket di Desa Burai, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir. (BEKISARMEDIA.ID/HAIRUDIN)

Rahasia Estetika Songket: Teknik Cuban

Saat meninjau para pengrajin, Hj. Febrita Lustia memberikan perhatian khusus pada penggunaan alat “cuban” yang digunakan pengrajin untuk menyambung benang saat menenun.

Ia mengingatkan bahwa kerapian adalah kunci utama nilai jual sebuah songket, sehingga teknik cuban yang kurang rapi, bisa merusak estetika kain yang seharusnya tampak indah.

“Sangat disayangkan jika kain yang indah kehilangan estetikanya, karena teknik cuban yang kurang kuat atau rapi. Kerapihan itu kunci,” tegas Hj. Febrita Lustia dengan nada penuh perhatian kepada para ibu-ibu pengrajin.

Hj. Febrita Lustia saat memberikan saran teknis cuban kepada pengrajin songket di Desa Burai, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir. (BEKISARMEDIA.ID/HAIRUDIN)
Hj. Febrita Lustia saat memberikan saran teknis cuban kepada pengrajin songket di Desa Burai, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir. (BEKISARMEDIA.ID/HAIRUDIN)

Standar Kemplang: Harus Bersih dan Berlabel Expired

Tidak hanya urusan kain, Hj. Febrita Lustia juga menyoroti standarisasi makanan lokal seperti kemplang khas Burai, yang selama ini menjadi primadona bagi wisatawan yang berkunjung.

Ia menekankan tiga poin krusial bagi pelaku UMKM kuliner, yakni proses pembuatan wajib higienis, kemasan harus menarik, dan wajib mencantumkan keterangan kedaluwarsa yang jelas.

Menurutnya, kemasan yang bagus tidak hanya berfungsi sebagai pelindung, tetapi juga magnet utama untuk menarik minat pembeli, sekaligus menjamin keamanan bagi konsumen.

Hj. Febrita Lustia saat memberikan saran teknis cuban kepada pengrajin songket di Desa Burai, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir. (BEKISARMEDIA.ID/HAIRUDIN)
Hj. Febrita Lustia saat memberikan saran teknis cuban kepada pengrajin songket di Desa Burai, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir. (BEKISARMEDIA.ID/HAIRUDIN)

Inovasi Purun untuk Pasar Global

Di sisi lain, kerajinan purun juga tidak luput dari pantauan. Istri orang nomor satu di Sumsel ini, mendorong adanya inovasi desain, agar produk lokal tidak monoton dan mampu bersaing.

Dukungan nyata ini diharapkan bisa memicu semangat baru bagi warga Desa Wisata Burai, agar kemandirian ekonomi desa benar-benar terwujud lewat karya-karya berkualitas.

Kunjungan kerja ini membuktikan bahwa pemerintah ingin UMKM di Ogan Ilir tidak hanya jago kandang, tetapi siap naik kelas dan bersaing di pasar yang lebih luas. (ohs)

Baca juga :

Ditulis oleh : O. Hairudin Sikumbang | Redaktur : O. Hairudin Sikumbang

About Oyong Hairudin

Avatar photo
Wartawan yang memiliki sertifikat kompetensi muda. Aktif meliput perkembangan olahraga, sepak bola, dan peristiwa daerah di Sumatera Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *