Sardundun: Ketika Atap Menjadi Tempat Doa dan Gotong Royong Menjelma Menjadi Pertunjukan

Kesiapan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin untuk Bebas Asap Tahun 2026

“Sebuah rumah boleh selesai dibangun oleh kayu dan paku. Namun, sebuah rumah baru benar-benar hidup ketika dibangun oleh kebersamaan.”

Kalimat itu seakan menjadi napas dari Sardundun: Nyanyian Atap, Gerak Ritus dari Tanah Semende, sebuah karya tari teatrikal yang menghidupkan kembali tradisi lisan masyarakat Semende, Sumatra Selatan (Sumsel). Dipentaskan di Lawang Borotan pada hari Selasa, tanggal 30 Juni 2026, pertunjukan ini bukan sekadar menghadirkan tontonan, tetapi juga mengajak penonton menyelami cara hidup yang perlahan memudar ditelan zaman.

Di tanah Semende, mendirikan rumah tidak pernah menjadi pekerjaan seorang tukang atau satu keluarga semata. Sebuah rumah lahir dari tenaga banyak orang. Kaum lelaki bergotong royong mengangkat kayu dan menegakkan tiang, perempuan menyiapkan hidangan bagi para pekerja, anak-anak berlarian di halaman menyaksikan rumah perlahan berdiri, sementara para tetua memanjatkan do’a agar rumah yang dibangun menjadi tempat yang membawa keselamatan dan keberkahan.

Rumah, bagi masyarakat Semende, bukan sekadar bangunan fisik. Ia merupakan ruang kehidupan yang dibangun di atas rasa saling percaya, persaudaraan, serta penghormatan kepada Sang Pencipta.

Di tengah prosesi itulah Sardundun dilantunkan.

Sardundun, Nyanyian yang Mengiringi Berdirinya Sebuah Rumah

Sardundun merupakan sastra tutur yang diwariskan secara turun-temurun. Nyanyian ini dilantunkan ketika kerangka rumah telah berdiri dan atap mulai ditegakkan.

Lantunannya bukan sekadar mengiringi pekerjaan, melainkan menjadi do’a bersama yang menyertai setiap kayu yang dipasang.

Di dalam setiap baitnya, tersimpan harapan agar penghuni rumah memperoleh keselamatan, rezeki yang baik, kehidupan yang tenteram, serta hubungan yang harmonis dengan sesama maupun alam. Sardundun menjadi penanda bahwa rumah bukan hanya tempat berteduh, tetapi juga tempat bertumbuhnya nilai-nilai kehidupan.

Tradisi yang Perlahan Memudar

Seiring perubahan zaman, tradisi tersebut perlahan mulai kehilangan ruang. Rumah-rumah panggung kayu yang dahulu dibangun melalui semangat gotong royong, kini semakin jarang dijumpai. Pembangunan rumah lebih banyak diserahkan kepada tenaga profesional, dengan proses yang lebih cepat dan praktis.

Bersamaan dengan itu, ruang bagi tradisi Sardundun ikut menyempit. Nyanyian yang dahulu menggema di atas atap rumah, kini lebih sering hidup dalam ingatan para tetua, daripada hadir dalam keseharian masyarakat.

Berangkat dari kegelisahan itulah karya ini lahir.

Menghidupkan Kembali Ingatan Kolektif Lewat Seni

Alih-alih menjadi dokumentasi sejarah, pertunjukan ini memilih bahasa seni sebagai medium untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat.

Penonton diajak mengikuti perjalanan seorang anak yang mendengar kisah Sardundun dari sang kakek. Dari cerita sederhana itu, terbuka jendela menuju masa ketika gotong royong menjadi denyut kehidupan masyarakat Semende.

Setiap adegan menyusun kembali serpihan tradisi melalui gerak para penari, dialog teatrikal, komposisi musik, serta tata artistik yang saling menguatkan. Gerak tari menggambarkan kerja bersama, irama musik membangun suasana spiritual, sementara sastra tutur menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Pertunjukan ini tidak bermaksud merekonstruksi tradisi secara utuh, melainkan menghadirkan kembali roh yang terkandung di dalamnya. Nilai kebersamaan, solidaritas, rasa syukur, penghormatan terhadap alam, dan spiritualitas diterjemahkan ke dalam bahasa pertunjukan yang dapat dipahami generasi masa kini.

Lebih dari Sebuah Pertunjukan

Di atas panggung, Sardundun tidak hanya dikenang sebagai nyanyian lama. Ia hidup kembali sebagai pengalaman artistik yang mengajak penonton bertanya: masihkah kita memiliki semangat untuk saling membantu, sebagaimana para leluhur dahulu membangun rumah bersama?

Pertunjukan ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak selalu hilang karena dilupakan. Ia juga dapat lenyap ketika nilai-nilai yang melahirkannya tidak lagi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, Sardundun bukan semata tentang rumah yang sedang dibangun. Ia merupakan metafora tentang bagaimana sebuah masyarakat membangun dirinya sendiri melalui gotong royong, rasa syukur, dan kebersamaan.

Malam itu, tepuk tangan yang mengiringi akhir pertunjukan, bukan hanya menjadi apresiasi bagi para seniman. Tepuk tangan tersebut juga menjadi penghormatan bagi sebuah tradisi yang telah mengajarkan bahwa membangun rumah berarti membangun persaudaraan.

Didukung Program Pemajuan Kebudayaan

Pertunjukan Sardundun: Nyanyian Atap, Gerak Ritus dari Tanah Semende didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, melalui program Dana Indonesiana sebagai bagian dari upaya pelestarian dan pemajuan kebudayaan Indonesia.

Pementasan turut dihadiri Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatra Selatan, Sri Guniarto; perwakilan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dr. Agung; Kepala Bidang Sejarah dan Tradisi Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Desi Muharman; Ketua Dewan Kesenian Sumatra Selatan, M. Iqbal Rudianto; serta Ketua Dewan Kesenian Palembang, Muhammad Nasir.

Tim Produksi

  • Judul: Sardundun: Nyanyian Atap, Gerak Ritus dari Tanah Semende
  • Koreografer: Sonia Anisa Utami, M.Sn.
  • Sutradara: Hasan, M.Sn.
  • Penata Musik: Rio Eka Putra, M.Sn.
  • Pimpinan Produksi: Irfan Kurniawan

Lebih dari sebuah pertunjukan, Sardundun: Nyanyian Atap, Gerak Ritus dari Tanah Semende menjadi ruang perjumpaan antara tradisi dan generasi masa kini. Selama nyanyian itu masih dilantunkan, selama kisah itu masih diceritakan, dan selama nilai gotong royong masih diwariskan, Sardundun akan tetap hidup, bukan hanya di atas panggung, tetapi juga di hati masyarakat. (ohs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *