Anggota DPD RI Ajak Masyarakat Jaga Eksistensi Budaya Sunda

Kesiapan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin untuk Bebas Asap Tahun 2026

BEKISARMEDIA.ID — Anggota Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI) Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat (Jabar), Agita Nurfianti, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan pelestarian budaya sebagai gerakan bersama. Langkah ini perlu dimulai dari lingkungan terkecil, seperti keluarga, sekolah, komunitas, hingga merambah ke ruang digital.

Menurutnya, kebudayaan daerah tidak boleh hanya hadir secara momentum dalam bentuk festival tahunan atau pagelaran seni seremonial semata. Lebih dari itu, nilai-nilai tradisi harus hidup dan dipraktikkan dalam keseharian masyarakat sebagai bentuk jati diri bangsa yang otentik.

Pesan mendalam tersebut disampaikan Agita Nurfianti saat menghadiri Pagelaran dan Diskusi Budaya “Ciparay Medar Budaya II” yang mengusung tema Budaya Daerah Jati Diri Bangsa: Bersama DPD RI Melestarikan Budaya Nusantara. Kegiatan ini berlangsung di Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, pada hari Minggu, tanggal 5 Juli 2026.

baca juga : Siapkan Mental Menuju Indonesia Emas 2045, 350 Delegasi Festival Pelajar Unggulan ke-4 “Dulang” Ilmu di DPD RI

Agita Nurfianti mengapresiasi Pemerintah Kecamatan Ciparay, panitia penyelenggara, budayawan, seniman, serta tokoh masyarakat setempat, yang konsisten menjaga warisan leluhur di tengah gempuran modernisasi. Baginya, konsistensi ini menunjukkan bahwa kepedulian publik terhadap identitas lokal masih sangat tinggi.

“Ketika kita berbicara tentang budaya, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang jati diri. Tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan nilai-nilai apa yang ingin kita wariskan kepada generasi penerus,” ujar Agita Nurfianti.

Tantangan Digitalisasi dan Penguatan Karakter Daerah

Sebagai wilayah yang kaya akan khazanah tradisi, Jabar memiliki posisi strategis dalam peta kebudayaan nasional. Berbagai warisan budaya seperti angklung, calung, wayang golek, jaipongan, pencak silat, karinding, hingga permainan tradisional (kaulinan barudak) mencerminkan filosofi hidup masyarakat Sunda, yaitu silih asih, silih asah, dan silih asuh.

Namun, pesatnya penetrasi teknologi informasi membawa tantangan baru bagi ketahanan budaya lokal. Kemudahan akses terhadap budaya global, berpotensi mengikis kedekatan generasi muda dengan akar tradisinya sendiri, jika tidak diimbangi dengan strategi edukasi yang tepat.

“Jangan sampai anak-anak kita lebih mengenal budaya luar dibandingkan budayanya sendiri. Kemajuan teknologi tidak bisa dihindari, tetapi jangan sampai membuat kita kehilangan akar sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membawa budayanya berjalan berdampingan dengan perkembangan zaman,” tegas Agita Nurfianti.

baca juga : Hj. Eva Susanti Sampaikan Hasil Reses di Paripurna DPD RI, Soroti Program MBG, Stabilitas Pangan, hingga Masalah Pupuk Petani

Pelestarian kebudayaan di era modern dituntut menggunakan pendekatan multi-sektor. Peran keluarga sebagai madrasah pertama sangat krusial untuk mengenalkan bahasa ibu dan tata krama, sementara institusi pendidikan bertugas mengontekstualisasikannya lewat kurikulum muatan lokal. Di sisi lain, generasi muda dapat mengambil peran sebagai konten kreator yang mengemas kesenian tradisional menjadi produk digital yang menarik di media sosial.

Nilai Ekonomi dan Komitmen Regulasi Nasional

Dari perspektif ekonomi, integrasi antara aspek kebudayaan dan sektor pariwisata (cultural tourism) mampu membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Ketika sebuah kawasan berhasil merawat tradisinya, daerah tersebut memiliki daya tarik unik yang dapat mendatangkan wisatawan, yang pada akhirnya menggerakkan sektor UMKM dan ekonomi kreatif lokal.

Sebagai representasi daerah di tingkat pusat, Agita Nurfianti menegaskan komitmen DPD RI untuk terus mengawal kebijakan regulasi anggaran dan perlindungan hukum bagi hak cipta karya-karya seni tradisional Nusantara. Kebijakan nasional harus terus didorong agar lebih berpihak pada penguatan komunitas, pemberdayaan seniman, dan peningkatan kesejahteraan para pelaku budaya.

Apresiasi senada juga datang dari pihak eksekutif daerah. Mewakili Camat Ciparay, Sekretaris Camat Suryana menyatakan dukungannya terhadap inisiatif ruang diskusi kebudayaan seperti ini.

baca juga : GKR Hemas Tegaskan Program Strategis Daerah Jadi Fokus Perjuangan DPD RI

Pihak kecamatan berharap kegiatan berkala ini mampu mempererat silaturahmi sekaligus menjaring potensi generasi muda berbakat yang dapat membawa nama baik daerah ke tingkat nasional.

Menutup agenda diskusi, Agita Nurfianti berharap gaung dari Ciparay Medar Budaya II memicu lahirnya gerakan kolektif yang berkelanjutan di wilayah lain, termasuk menjadi inspirasi adaptasi bagi daerah-daerah di Sumatra Selatan dalam mengelola potensi budayanya.

“Ketika budaya daerah tetap hidup, Indonesia akan tetap berdiri tegak dengan jati dirinya. Mari kita rawat keberagaman ini sebagai kekuatan,” pungkasnya. (ohs)

BACA JUGA:  Hj. Eva Susanti Sampaikan Hasil Reses di Paripurna DPD RI, Soroti Program MBG, Stabilitas Pangan, hingga Masalah Pupuk Petani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *