Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan
Banner Ajakan Bijak Menyikapi Informasi dari Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin
Literasi Digital
Literasi Digita. (BEKISARMEDIA.ID/UNESA.AC.ID)

Menavigasi Rimba Digital: Mengapa Literasi Bukan Sekadar Bisa Mengetik di Layar?

Bayangkan kita sedang berdiri di tepi sebuah lautan yang sangat luas. Di hadapan kita, airnya berkilau, menyimpan begitu banyak misteri, sekaligus harta karun yang tak terhitung jumlahnya.

Itulah gambaran dunia digital kita hari ini. Bagi para pelajar, lautan ini adalah tempat bermain yang seru, tempat mencari ilmu, dan ladang kreativitas tanpa batas.

Namun, bagi para orang tua, lautan yang sama seringkali terlihat menakutkan, karena ombaknya yang besar dan arus bawahnya yang sulit diprediksi.

Seringkali kita terjebak dalam anggapan bahwa ketika seseorang sudah mahir mengoperasikan ponsel pintar atau lincah mengunggah konten di media sosial, mereka sudah “melek” teknologi.

Padahal, bisa menggunakan alat hanyalah langkah awal. Tantangan sesungguhnya yang kita hadapi di tahun 2026 ini adalah sejauh mana kita mampu membaca arah “kompas” di tengah badai informasi.

Inilah yang kita sebut sebagai literasi digital, sebuah keahlian yang harus dimiliki oleh anak dan orang tua agar tetap bisa berenang dengan aman tanpa harus tenggelam.

Bukan Sekadar Menggeser Layar, Tapi Menajamkan Nalar

Literasi digital bagi seorang pelajar bukan lagi soal nilai di atas kertas raport, melainkan “perisai” di dunia nyata. Saat jempol kita begitu mudah menekan tombol share pada sebuah berita yang mengejutkan, di situlah nalar kita diuji.

Apakah berita itu benar? Apakah informasi itu bermanfaat?

Di era di mana kecerdasan buatan bisa meniru suara dan wajah siapa saja, kemampuan untuk ragu dan bertanya, menjadi sangat mahal harganya.

Kita tidak ingin menjadi generasi yang hanya punya jari yang cepat, tapi juga otak yang kritis dalam memilah mana mutiara dan mana sampah di internet.

Bagi orang tua, literasi digital adalah bentuk kasih sayang baru. Zaman telah berubah; kita tidak mungkin lagi hanya melarang anak memegang ponsel, tanpa memberikan pemahaman.

Alih-alih menjadi “polisi” yang terus mengawasi, orang tua kini perlu menjadi “teman perjalanan”. Belajar memahami bahasa yang digunakan anak-anak di dunia maya, serta mengetahui risiko keamanan data pribadi, adalah cara terbaik untuk melindungi mereka.

Ketika orang tua dan anak memiliki pemahaman yang sama, teknologi tidak lagi menjadi jurang pemisah di meja makan, melainkan menjadi bahan diskusi yang menarik.

Membangun Etika dan Jejak Digital di Bumi Sriwijaya

Ada satu hal yang sering kita lupakan, internet tidak pernah benar-benar lupa. Setiap komentar yang kita tulis dan setiap gambar yang kita unggah, akan meninggalkan jejak permanen.

Literasi digital mengajarkan kita tentang etika, tentang bagaimana tetap menjadi pribadi yang santun meskipun kita tidak bertatap muka langsung.

Di Sumatra Selatan (Sumsel) dan tentunya daerah-daerah lainnya di Indonesia, kita memiliki nilai-nilai luhur dalam berkomunikasi, yang seharusnya tetap kita bawa ke dalam ruang-ruang obrolan digital.

Santun di dunia nyata, harus selaras dengan santun di dunia maya.

Selain itu, literasi digital membuka pintu peluang yang luar biasa luas. Bagi pelajar di daerah, teknologi adalah penghapus jarak.

Seorang anak dari pelosok, kini bisa belajar ilmu yang sama dengan anak di pusat kota, asalkan ia tahu cara mencari sumber yang valid.

Keahlian mengelola informasi digital adalah tiket untuk bersaing di masa depan. Jika kita mampu menguasainya, kita bukan lagi sekadar penonton di pinggir jalan, melainkan pemain aktif yang mampu menciptakan solusi bagi masyarakat di sekitar kita.

Pendidikan digital yang sukses, bukan terjadi saat sekolah membagikan ribuan laptop, melainkan saat setiap individu sadar bahwa mereka adalah nahkoda atas perangkatnya sendiri.

Di lautan informasi yang tidak bertepi ini, mari kita sepakat bahwa navigasi yang baik adalah kunci. Bukan soal seberapa kencang kita berlari di dunia digital, tapi soal apakah kita tahu persis ke arah mana kita sedang menuju. (ohs)

3a39f8afb679f0a60a78f1a01894f548

Ditulis oleh : O. Hairudin Sikumbang | Redaktur : O. Hairudin Sikumbang

About Oyong Hairudin

Avatar photo
Wartawan yang memiliki sertifikat kompetensi muda. Aktif meliput perkembangan olahraga, sepak bola, dan peristiwa daerah di Sumatera Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *