Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan
Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang. (foto : indonesiakaya.com)
Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang. (foto : indonesiakaya.com)

Dari Jakabaring ke Bekasi : Ketika Sriwijaya FC Bermain Jauh dari Rumah, Namun Tidak Pernah Kehilangan Jiwa

Senin, 16 Februari 2026, menjadi hari yang berbeda bagi Sriwijaya FC (SFC). Berstatus tuan rumah, namun bermain jauh dari Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ), Palembang, rumah yang selama ini menyimpan ribuan kenangan.

Pada pekan ke-19 Pegadaian Championship musim 2025/2026, SFC kembali menjalani pertandingan kandang. Namun kali ini, Laskar Wong Kito tidak bertarung di Stadion GSJ), stadion kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel), yang selama ini menjadi saksi perjalanan panjang klub.

Laga melawan FC Bekasi City justru digelar di Stadion Patriot Chandra Bhaga, Kota Bekasi, Jawa Barat. Sebuah situasi yang terasa asing, tuan rumah yang bermain di markas lawan. Dalam sembilan laga kandang sebelumnya musim ini, stadion tersebut memang digunakan FC Bekasi City untuk menjamu tim-tim tamu.

Namun bagi SFC, perpindahan ini bukan sekadar soal tempat bertanding. Ia adalah bagian dari perjalanan yang lebih dalam, tentang ujian, ketahanan, dan harapan.

Sriwijaya Mania, Supporter Sriwijaya FC. (foto : ist)
Sriwijaya Mania, Supporter Sriwijaya FC. (foto : ist)

Klub Besar, Ujian Besar

Sejak awal musim Pegadaian Championship 2025/2026, SFC menjalani fase yang tidak mudah. Aktivitas perekrutan pemain yang terbatas, dinamika dukungan sponsor, hingga persoalan sekretariat, menjadi bagian dari cerita yang harus dilalui klub yang hadir di Sumsel sejak 23 Oktober 2004 itu.

Namun seperti perjalanan panjang lainnya, setiap tantangan selalu membawa makna. SFC bukan sekadar klub sepak bola, ia adalah simbol kebanggaan, identitas, dan harapan bagi banyak orang.

Gelora Sriwijaya Jakabaring : Lebih dari Sekadar Stadion

Stadion GSJ bukan hanya bangunan megah berkapasitas hampir 40.000 penonton. Ia adalah ruang emosi. Tempat dimana ribuan suara bersatu, dimana harapan dan kecemasan berdiri berdampingan, dan dimana cinta terhadap klub menemukan bentuknya.

Di sana, bukan hanya pertandingan yang terjadi, tetapi kehidupan.

Bagi pedagang kecil, setiap laga SFC menghadirkan rezeki. Dari hiruk-pikuk tribun, lahir senyum yang dibawa pulang ke rumah, untuk keluarga, untuk pendidikan anak-anak, untuk masa depan yang terus diperjuangkan.

Dari sudut kecil stadion itu, banyak mimpi tumbuh dan kehidupan bergerak melalui perputaran ekonomi yang tercipta setiap pertandingan.

GSJ juga menjadi ruang kenangan. Ada yang menemukan sahabat, ada yang menemukan cinta, bahkan membangun keluarga dari pertemuan sederhana di tribun stadion. Kini, anak-anak mereka tumbuh dan ikut menyaksikan perjalanan SFC yang telah dua dekade menjadi bagian dari Bumi Sriwijaya.

Lebih jauh lagi, SFC bersama GSJ telah membawa nama Sumsel dikenal luas, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga hingga ke luar negeri. Ia adalah ruang ingatan bagi banyak orang, lintas daerah, lintas negara, dan lintas generasi.

Supporter saat memberikan dukungan kepada pemain Sriwijaya FC di Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang. (foto : ist)
Supporter saat memberikan dukungan kepada pemain Sriwijaya FC di Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang. (foto : ist)

Jauh dari Rumah, Dekat dengan Harapan

Pada laga perdana putaran ketiga musim ini, hasil yang diharapkan memang belum berpihak. Namun sepak bola tidak selalu berbicara tentang skor. Ada hal yang lebih penting, energi, semangat, dan keyakinan yang tetap hidup.

Para pemain SFC menunjukkan perjuangan yang tidak mudah. Mereka membuat FC Bekasi City bekerja keras sepanjang pertandingan. Kebobolan satu gol menjadi catatan yang harus diterima, namun tetap menunjukkan perbaikan dibanding dengan pertemuan sebelumnya pada 16 Januari 2026, ketika Sriwijaya FC harus menelan kekalahan pahit, 0-7.

Hari ini mungkin belum menghadirkan kemenangan. Namun ia menghadirkan sesuatu yang tidak kalah penting, tanda bahwa semangat belum padam.

Sebuah Klub, Sebuah Keyakinan

SFC telah melewati banyak fase, kejayaan, ujian, perubahan, dan harapan yang terus diperbarui. Bermain jauh dari Jakabaring mungkin terasa berbeda, namun jiwa klub tidak pernah berpindah.

Selama masih ada dukungan, cinta, dan keyakinan dari masyarakat, SFC akan tetap berdiri. Melangkah, berjuang, dan menjaga harapan tetap hidup, dimana pun pertandingan dimainkan.

Karena rumah sejati SFC bukan hanya stadion. Tetapi hati orang-orang yang percaya. (ohs)

Ditulis oleh : O. Hairudin Sikumbang | Redaktur : O. Hairudin Sikumbang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *