Kekalahan 0–2 dari PSGC Ciamis, menjadi hasil yang harus diterima Sumsel United pada pertandingan keduanya di Pegadaian Championship 2026/2027. Bertanding di Stadion Galuh, Ciamis, Sabtu, 19 September 2026, Sumsel United gagal membawa pulang poin, setelah dua gol Ezechiel Ndouasel pada menit ke-36 dan ke-57 memastikan kemenangan tuan rumah. Hasil ini membuat perjalanan Sumsel United di awal musim belum bergerak dari angka nol.
Namun, pertandingan di Ciamis sepertinya tidak cukup jika hanya dibaca melalui angka 0–2. Di balik kekalahan tersebut terdapat beberapa persoalan yang mulai memperlihatkan bentuknya, mulai dari permainan di sisi kiri, antisipasi bola mati, kegagalan memanfaatkan penalti, hingga kartu merah yang membuat usaha untuk mengejar ketertinggalan semakin berat. Bagi sebuah tim yang baru menjalani pertandingan kedua, semua itu belum tentu merupakan kesimpulan, tetapi setidaknya menjadi pertanyaan yang harus mulai dijawab.
Pelatih Sumsel United, M. Nasuha, mengakui ada beberapa posisi yang tidak berjalan sesuai rencana. Salah satu yang paling disorot adalah sisi kiri permainan, yang menurutnya tidak mampu menjalankan fungsi sebagaimana yang diharapkan sehingga tim kesulitan mengantisipasi permainan PSGC. Pengakuan tersebut menarik, karena menunjukkan bahwa persoalan yang terlihat di lapangan juga telah menjadi perhatian dari dalam tim sendiri.
Persoalan lain muncul ketika Sumsel United harus menghadapi situasi bola mati. Sebelum pertandingan, tim kepelatihan sebenarnya sudah mengingatkan para pemain mengenai ancaman yang dimiliki PSGC, tetapi peringatan tersebut belum sepenuhnya berubah menjadi antisipasi yang efektif di lapangan. Dalam sebuah perjalanan panjang, detail-detail seperti ini sering kali menjadi pembeda antara tim yang mampu bertahan dan tim yang harus menerima kekalahan.
Kesempatan untuk mengubah arah pertandingan sebenarnya sempat terbuka ketika Sumsel United mendapatkan hadiah penalti. Jika berhasil dieksekusi, pertandingan mungkin memiliki jalan cerita yang berbeda, tetapi peluang tersebut tidak berubah menjadi gol. Nasuha sendiri mengakui kegagalan tersebut turut memengaruhi mental pemain, sementara dari sisi PSGC, momen itu justru dianggap sebagai kesempatan untuk mengambil kendali pertandingan.
Di titik ini, penalti yang gagal tidak seharusnya dibaca sebagai penyebab tunggal kekalahan Sumsel United. Statistik pertandingan menunjukkan PSGC lebih dominan dalam penguasaan bola, 64 persen berbanding 36 persen, dan juga menghasilkan lebih banyak tembakan, 15 berbanding tujuh. Angka-angka tersebut memberi gambaran bahwa masalah Sumsel United pada sore itu lebih luas daripada sekadar satu peluang yang gagal dimanfaatkan.
Situasi kemudian menjadi semakin sulit setelah Sumsel United kehilangan satu pemain akibat kartu merah. Bermain dengan sepuluh orang ketika sedang tertinggal, tentu membuat ruang untuk mengejar pertandingan semakin sempit, dan Nasuha mengakui kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap peluang tim untuk bangkit. Dalam keadaan seperti itu, pertandingan perlahan bergerak menjauh dari kemungkinan Sumsel United mendapatkan hasil yang diinginkan.
Ada pula persoalan yang berada di luar permainan teknis. Perjalanan jauh menuju Ciamis disebut Nasuha ikut memberikan pengaruh terhadap kondisi stamina pemain, sesuatu yang mungkin terlihat sederhana, tetapi bisa menjadi bagian dari persoalan ketika sebuah tim harus menjalani kompetisi dengan jadwal dan perjalanan yang panjang. Karena itu, kekalahan di Ciamis tidak hanya meninggalkan pekerjaan rumah di lapangan, tetapi juga mengingatkan bahwa perjalanan satu musim menuntut kesiapan dalam banyak sisi.
Dua pertandingan pertama Sumsel United akhirnya memberikan dua pengalaman yang berbeda. Pada pertandingan pembuka melawan PSMS Medan, mereka mampu bangkit dari ketertinggalan dua gol dan mendapatkan satu poin, sedangkan di Ciamis mereka justru gagal merespons ketika pertandingan mulai bergerak ke arah yang tidak menguntungkan. Dua pertandingan itu belum cukup untuk menggambarkan seperti apa Sumsel United sepanjang musim, tetapi keduanya sudah memberikan bahan awal untuk melihat bagaimana tim ini bereaksi terhadap situasi yang berbeda.
Karena itu, kekalahan dari PSGC mungkin lebih tepat dipandang sebagai bagian dari proses membaca sebuah tim yang baru memulai perjalanan. Ada persoalan yang harus diperbaiki, ada keputusan yang perlu dievaluasi, dan ada pemain yang harus menemukan kembali cara terbaik untuk menjalankan perannya. Semua itu akan menjadi bagian dari pekerjaan M. Nasuha dan timnya menjelang pertandingan-pertandingan berikutnya.
Setelah Ciamis, Sumsel United akan kembali ke Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring untuk menghadapi PSPS Pekanbaru pada 26 September 2026. Pertandingan tersebut akan menjadi kesempatan berikutnya untuk melihat apakah evaluasi dari kekalahan di Ciamis benar-benar menghasilkan perubahan di lapangan. Sebab dalam perjalanan panjang sebuah kompetisi, persoalan bukan hanya tentang bagaimana sebuah tim menerima kekalahan, tetapi tentang apa yang dilakukan setelah kekalahan itu terjadi.
Sumsel United memang belum mendapatkan poin dari pertandingan kedua ini dan masih membawa catatan awal yang berat. Tetapi musim masih panjang, dan perjalanan belum cukup jauh untuk membuat kesimpulan akhir. Justru dari pertandingan seperti inilah sebuah perjalanan mulai memperlihatkan persoalan-persoalan yang kelak menentukan ke mana sebuah tim akan bergerak.
Ditulis oleh O. Hairudin Sikumbang
Kontributor BekisarMedia.id









